Sabtu, 31 Maret 2012

Pengaruh Konsep Diri, Sikap Siswa Pada Matematika dan Kecemasan Siswa Terhadap Hasil Belajar Matematika


A.    JUDUL PENELITIAN
“Pengaruh Konsep Diri, Sikap Siswa Pada Matematika dan Kecemasan Siswa Terhadap Hasil Belajar Matematika”

B.     BIDANG ILMU
Pendidikan MIPA

C.    PENDAHULUAN
Harold G. Shane dalam buku Arti Pendidikan Bagi Masa Depan, mengatakan :
“pendidikan secara potensial penting karena : (1) Pendidikan adalah satu cara yang mapan untuk memperkenalan si siswa (learners) pada keputusan sosial yang timbul; (2) pendidikan dapat dipakai untuk menanggulangi masalah sosial tertentu; (3) pendidikan telah memperlihatkan kemampuan yang meningkat untuk menerima dan mengimplementasikan alternatif-alternatif baru; (4) pendidikan barangkali merupakan cara terbaik yang dapat ditempuh masyarakat untuk membimbing perkembangan manusa sehingga pengalaman dari dalam berkembang pada setiap anak dan karena itu dia terdorong untuk memberikan kontribusi pada kebudayaan hari esok.” (Harold G. Shane, 2002, 39).

Berangkat dari apa yang diungkapkan oleh Shane, dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan bagian yang sangat penting dan tidak bisa ditawar-tawar lagi, sehingga setiap warga negara Indonesia wajib mengenyam pendidikan. Hal ini dimaksudkan agar, mutu sumber daya manusia Indonesia dapat bersaing dengan warga negara lain di dunia ini.
Kualitas sumber daya manusia, sebenarnya tidak hanya diukur dari prestasi akademiknya saja, melainkan dari banyak faktor yang merupakan sebuah sinergi yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Akan tetapi, bentuk kongkrit yang terlihat saat ini adalah hasil belajar yang diperoleh oleh seseorang saat menempuh pendidikan (dalam hal ini pendidikan formal).
Hasil belajar, yang merupakan representasi perubahan tingkah laku, peningkatan kompetensi, perubahan pola pikir adalah output yang diperoleh setelah seseorang mendapatkan pengajaran di lingkungan sekolah. Tentunya kita memiliki keinginan yang sama bahwa hasil belajar yang didapatkan memiliki grade yang baik. Akan tetapi di lapangan terjadi 2 hal, yaitu (1) hasil belajar siswa buruk dan (2) hasil belajar siswa baik, tetapi siswa tidak memiliki kompetensi apapun dan tidak dapat bertanggung jawab tentang nilainya. Atau dengan bahasa lain, hasil belajar siswa kurang optimal.
Menilik dari hasil Ujian Nasional di Jakarta baru-baru ini, nilai UN yang dinilai kurang adalah Matematika. Pertanyaannya adalah mengapa matematika? Padahal, penguasaan matematika bagi bangsa Indonesia telah dipersiapkan melalui sekolah-sekolah formal sejak dini, artinya sejak Sekolah Dasar sampai Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, materi matematika disusun secara sistematis berkelanjutan, sehingga diharapkan siswa lebih mudah mempelajarinya.
Akan tetapi, di lapangan banyak siswa yang bersikap negatif terhadap matematika. Siswa menganggap matematika sebagai momok yang sulit untuk dipelajari apalagi untuk dikuasai dan ini berlangsung turun temurun kepada generasi di bawahnya. Akhirnya, siswa tidak berani untuk mempelajari matematika, sehingga membuat hasil belajarnya menjadi buruk.
Sebenarnya, hasil belajar ini ditentukan oleh banyak faktor, yaitu faktor guru, lingkungan sekolah, lingkungan tempat tinggal, cara belajar siswa, fasilitas belajar yang digunakan, faktor internal siswa, dan lain sebagainya. Akan tetapi, seorang siswa yang telah menyadari tugasnya sebagai seorang pembelajar seharusnya dapat menggunakan faktor-faktor yang ada untuk memaksimalkan hasil belajarnya.
Pada keseharian, ada berbagai peran yang dijalani oleh individu sebagai manusia, salah satunya adalah perannya sebagai seorang siswa. Ada banyak sekali pekerjaan, tantangan, dan tuntutan yang dihadapi dan harus di jalankan oleh siswa. Pekerjaan, tantangan dan tuntutan tersebut antara lain pembuatan berbagai macam tugas, laporan, makalah, maupun ujian yang merupakan suatu bentuk evaluasi bagi siswa yang dilaksanakan secara rutin, dan juga tugas-tugas akademis lainnya. Misalnya saja jika siswa dalam menghadapi ujian, mereka dapat mengendalikan ketegangan saat menghadapi ujian, dan tetap tenang, maka tidak ada hal yang menghambatnya, setidaknya dari dalam dirinya ia sudah dapat menguasai kondisinya sendiri. Tapi jika siswa memiliki perasaan takut akan kegagalan atau merasa panik dalam menghadapi ujian, walaupun ia memiliki motivasi untuk berprestasi, tetap saja siswa akan mengalami kesulitan untuk dapat meraih prestasi yang maksimal.
Kecemasan akan timbul jika individu menghadapi situasi yang dianggapnya mengancam dan menekan. Misalnya saja, apabila seseorang ingin melaksanakan atau melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan yang baru, maka tentu orang tersebut akan merasa cemas dalam menghadapi pekerjaannya tersebut, apakah orang itu dapat melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan hasil yang baik atau bahkan sebaliknya. Dalam kondisi dimana rasa cemas menghinggapi pikiran seseorang, tentunya orang tersebut akan berpikiran atau berangggapan yang negatif terhadap dirinya sendiri. Seperti misalnya, “pasti saya tidak bisa menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan baik”; “pasti saya berhenti mengerjakan pekerjaan tersebut di tengah jalan”; “pasti hasilnya tidak memuaskan”; “pasti saya dicemooh orang banyak”; dan sebagainya.
Kecemasan sampai pada batas tertentu merupakan hal yang normal bagi setiap orang. Mungkin seseorang merasa khawatir akan sesuatu atau orang lain karena ia pernah mengalami hal yang tidak menyenangkan pada kejadian serupa dimasa lampau. Kecemasan dalam taraf “normal” dapat berfungsi sebagai system alarm yang memberikan tanda-tanda bahaya bagi seseorang yang mengalaminya untuk dapat lebih siap menghadapi keadaan yang akan muncul.
Penderita kecemasan sering mengalami gejala-gejala seperti berkeringat berlebihan walaupun udara tidak panas dan bukan karena berolahraga, jantung berdegup ekstra cepat atau terlalu keras, dingin pada tangan atau kaki, mengalami gangguan pencernaan, merasa mulut kering, merasa tenggorokan kering, tampak pucat, sering buang air kecil melebihi batas kewajaran dan lain-lain. Mereka juga sering mengeluh pada persendian, kaku otot, cepat merasa lelah, tidak mampu rileks, sering terkejut, dan ada kalanya disertai gerakan-gerakan wajah atau anggota tubuh dengan intensitas dan frekuensi berlebihan, misalnya pada saat duduk terus menerus, menggoyang-goyangkan kaki, meregangkan leher, mengernyitkan dahi dan lain-lain.
Perasaan tenang atau takut akan kegagalan, panik, dan lain-lain saat menghadapi ujian sangat dipengaruhi dari tipe kepribadian yang dimiliki oleh siswa tersebut. Menurut Jung, tipe kepribadian dibagi menjadi tipe intovert dan tipe ekstrovert, dimana kedua tipe ini memiliki sifat-sifat yang berbeda. Tipe ektrovert yang mengarahkan sang pribadi kepada dunia luar, dunia objektif, sedangkan sifat kepribadian tipe introvert itu mengarahkan sang pribadi ke dunia dalam, dunia subjektif. Hal itu sangat mempengaruhi perasaan-perasaan yang dirasakan atau muncul pada individu saat menghadapi suatu situasi termasuk saat menghadapi situasi ujian. Kepribadian menurut Allport adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan.
Kehidupan manusia dapat berlangsung karena adanya hubungan timbal balik dengan lingkungan hidupnya. Dalam hubungan ini manusia dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Penyesuaian ini mengakibatkan manusia lebih banyak mengubah diri dibanding mengubah lingkungan.
Tanggapan individu yang sehat terhadap diri dan kehidupannya merupakan landasan dasar untuk dapat menyesuaikan diri. Faktor konsep diri perlu juga dipertimbangkan dalam menentukan berhasil tidaknya penyesuaian diri seseorang. Dengan kata lain konsep diri merupakan hal yang sangat mempengaruhi penyesuaian diri dan merupakan faktor penting dalam perkembangan diri seseorang.
Konsep diri bukan merupakan faktor yang dibawa sejak lahir, melainkan faktor yang dijiwai dan terbentuk melalui pengalaman individu dalam berhubungan dengan orang lain. Dalam berinteraksi ini setiap individu akan menerima tanggapan. Tanggapan yang diterima tersebut akan dijadikan cermin bagi individu untuk menilai dan memandang dirinya sendiri. Jadi konsep diri terbentuk karena suatu proses umpan balik dari individu lain.
Bila seseorang yakin bahwa orang-orang yang penting baginya menyenangi mereka, maka mereka akan berpikir positif tentang diri mereka dan sebaliknya. Orang yang memiliki konsep diri positif berarti memiliki penerimaan diri dan harga diri yang positif. Mereka menganggap dirinya barharga dan cenderung menerima diri sendiri sebagaimana adanya. Sebaliknya, orang yang memiliki konsep diri negatif, menunjukkan penerimaan diri yang negatif pula. Mereka memiliki perasaan kurang berharga, yang menyebabkan perasaan benci atau penolakan terhadap diri sendiri. Sejauh mana keberhasilan seseorang dalam penyesuaian diri dengan lingkungan, maka akan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kepribadian orang tersebut. Seperti halnya perkembangan dan pertumbuhan manusia yang mencakup berbagai fungsi fisik dan mental, maka kepribadian seseorang juga memiliki perkembangan dan perubahan.
Konsep diri terbentuk karena adanya interaksi seseorang dengan orang-orang disekitarnya. Apa yang dipersepsi seseorang tentang dirinya, tidak terlepas dari struktur, peran dan status sosial yang disandang orang tersebut. Struktur, peran dan status sosial merupakan gejala yang dihasilkan dari adanya interaksi antara individu yang satu dengan individu yang lain, antara individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok.
Adanya struktur, peran dan status sosial yang menyertai seluruh perilaku individu dipengaruhi oleh faktor sosial. Adanya pengaruh faktor sosial terhadap perkembangan konsep diri individu telah dibuktikan oleh Rosenberg. Dijelaskan bahwa perkembangan konsep diri tidak terlepas dari pengaruh faktor sosial, agama, ras. Dijelaskan bahwa individu yang berstatus sosial yang tinggi akan mempunyai konsep diri yang lebih positif dibandingkan individu yang berstatus sosial rendah. Individu dewasa mengalami kesulitan untuk menggabungkan diri dengan satu kelompok sosial tertentu yang cocok dengan dirinya. Salah satu tugas perkembangan yang harus dilakukan oleh individu dewasa adalah menjadi bagian dari satu kelompok sosial tertentu.
Untuk itulah penulis merasa terpanggil untuk meneliti tentang pengaruh konsep diri, sikap siswa pada matematika dan kecemasan siswa terhadap hasil belajar matematika siswa.

D.    PERUMUSAN MASALAH
  1. Adakah pengaruh langsung atau tidak langsung antara konsep diri siswa terhadap hasil belajar matematika siswa?
  2. Adakah pengaruh langsung atau tidak langsung antara sikap siswa pada matematika terhadap hasil belajar matematika siswa?
  3. Adakah pengaruh kecemasan siswa terhadap hasil belajar matematika siswa?
  4. Adakah pengaruh antara konsep diri siswa terhadap kecemasan siswa?
  5. Adakah pengaruh antara sikap siswa pada matematika terhadap kecemasan siswa?
  6. Adakah pengaruh antara konsep diri terhadap sikap siswa pada matematika?

E.     TINJAUAN PUSTAKA
  1. Hasil Belajar Matematika
Hasil belajar adalah pola-pola perubahan tingkah laku seseorang yang meliputi asfek kognitif, afektif dan/atau psikomotor setelah menempuh kegiatan belajar tertentu yang tingkat kualitas perubahhannya sangat ditentukan oleh faktor-faktor yang ada dalam diri siswa dan lingkungan sosial yang mempengaruhinya. Jadi intinya dapat dikatakan perubahan tingkah laku merupakan wujud hasil belajar seseorang setelah mempelajari sesuatu objek. Jika objeknya matematika, maka perubahan tingkah laku tersebut yaitu perubahan pengetahuan, sikap, minat, kecenderungan atau  tindakan yang terkait dengan matematika. Bentuk-bentuk perubahan dimaksud dapat berupa dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak berminat menjadi berminat, dari tidak cekatan menjadi cekatan dan sebagainya.
Matematika adalah ilmu yang mempelajari tentang cara penalaran logis yang memiliki nilai praktis, disiplin dan budaya dengan objek berupa ide/konsep abstrak yang tersusun secara hirarkis yang diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol serta penalarannya bersifat deduktif. Suparman Ibrahim Abdullah dalam makalah berjudul Matematika sebagai Dasar semua Ilmu mengemukakan : ”Asosiasi Matematikawan se dunia mengelompokkan matematika menjadi 10 cabang: Aritmatika, Aljabar, Geometri, Trigonometri, Kalkulus, Probabilitas dan Statistik, Set teori dan logic, Teori Angka, Analisis system, dan teori Chaos”. 
Oleh karenanya, hasil belajar matematika dapat diartikan sebagai  perwujudan dari proses kerberhasilan pembelajaran matematika yang dicerminkan dengan perubahan tingkah laku dalam bentuk kognitif, afektif maupun psikomotor seseorang setelah mendapatkan pengalaman belajar matematika. Hal ini diperkuat oleh pendapat Sudjana yang mengatakan bahwa ”Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah memiliki pengalaman belajarnya”.
Selanjutnya Nasution juga berpendapat bahwa: ”Hasil belajar sebagai suatu perubahan yang terjadi pada individu yang belajar bukan saja perubahan mengenai pengetahuan tetapi juga dalam bentuk kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, penguasaan dan penghargaan dalam diri pribadi individu yang belajar”.
Dari keterangan di atas jelaslah bahwa serseorang yang sudah belajar tidak sama keadannya dengan saat ketika belum belajar. Seorang yang belajar akan memperoleh kematangan dari proses pengalaman belajar dalam bentuk kecakapan-kecakapan. Perbedaan antara sebelum dengan sesudah mendapatkan pengalaman belajar itulah yang dimaksud dengan hasil belajar.
Hasil belajar matematika terwujud dari kecakapan seseorang dalam menyelesaikan problema (masalah) yang terkait dengan konsep-konsep matematis. Indikasi kemampuan matematika siswa terwujud dari hasil belajar dan pengalaman belajarnya sebagai indikator pencapaian tujuan pembelajaran. Menurut Hudoyo  “Tujuan belajar matematika adalah pencapaian transfer belajar”. Dari pendapat tersebut, menunjukkan bahwa pencapaian tranfer belajar merupakan tujuan utama pengajaran matematika di sekolah. Oleh karenanya tingkat kualitas hasil belajar matematika akan sangat dipengaruhi adanya proses transfer belajar. Pencapaian transfer belajar matematika dapat diamati melalui struktur kognitif yang telah dimiliki sisiwa tentang konsep dan teorema yang dipelajari. Adapun yang dimaksud struktur kognitif di sini yaitu berupa fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi yang telah dipelajari dan diingat oleh siswa sebelumnya. 
Hasil Belajar Matematika adalah perubahan-perubahan tingkah laku siswa sebagai indikator tingkat ketercapaian tujuan belajar matematika  dalam penguasaan struktur kognitif berupa fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi setelah mendapatkan pengalaman belajar di bidang matematika.


  1. Konsep Diri
Lussier menyatakan “your self-concept is your overall attitude about yourself”. (dalam arti bebas, konsep dirimu adalah keseluruhan sikap tentang dirimu sendiri. Lussier menambahkan bahwa “self-concept is your perception of yourself, which may not be the way others perceive you”. Konsep diri adalah persepsi kamu tentang dirimu sendiri, yang mana tidak ada cara yang lain untuk mempersepsikan dirimu. Sehingga, individu memikirkan dan merasakan tentang dirinya sendiri termasuk keyakinan dan sikapnya mengenai individu tersebut.
Solomon berpendapat bahwa :
“the self-concept refers to the beliefs a person holds about his or her own attributes, and how he or she evaluates these qualities. Although one’s overall self-concept may be positive, there certainly are parts of the self that are evaluated mor positively than other”.
Konsep diri pada dasarnya terdiri dari dua komponen yang meliputi citra diri (self-image) yang merupakan deskripsi sederhana mengenai diri kita, serta harga diri (self-esteem) yang merupakan suatu kesatuan kepercayaan yang selalu kita bawa kemana-mana yang telah kita terima kebenarannya terlepas dari apakah itu benar atau tidak.
Konsep diri merupakan pandangan, perasaan dan penilaian yang dimiliki seseorang mengenai diri sendiri yang didapat dari proses pengamatan terhadap diri sendiri maupun menurut persepsi orang lain berupa karakteristik fisik, psikologis dan sosial.

  1. Kecemasan
Handoyo, mendefinisikan kecemasan sebagai suatu keadaan emosional yang dialami oleh seseorang, dimana ia merasa tegang tanpa sebab-sebab yang nyata dan keadaan ini memberikan pengaruh yang tidak menyenangkan serta mengakibatkan perubahan-perubahan pada tubuhnya baik secara somatis maupun psikologis. Perubahan-perubahan somatis yang dimaksud yaitu mungkin timbulnya rasa mual, sering buang air kecil, denyut jantung yang bertambah keras dan lain-lain. Sedangkan perubahan-perubahan psikologis dapat ditemui seperti adanya perasaan ragu-ragu, kurang percaya diri, kegelisahan, rasa rendah diri dan lain-lain.
Menurut Gunarsa dkk, makin lama kecemasan berlangsung dan makin tinggi intensitasnya, maka makin “abnormal” kondisi orang tersebut. Jika seseorang berada pada daerah yang sedang terjadi perang, sekalipun ia tidak terkena musibah, tetapi jika ia mengalami kecemasan, hal ini masih dianggap “normal”. Jika seseorang yang sudah belajar dengan tekun, berlatih dengan giat, tidak mengalami gangguan fisik apapun tetapi ia merasa cemas akan kegagalan secara berlebihan dalam menjalankan tugasnya, maka kecemasannya itu tidak sepadan dengan keadaan yang ada. Hal tersebut dianggap “tidak normal”. Pahlevi (1991), mendefinisikan kecemasan sebagai suatu kecendrungan untuk mempersepsikan situasi sebagai ancaman dan akan mempengaruhi tingkah laku.
Gunarsa dkk, (1996) menjelaskan bahwa kecemasan berbeda dengan ketakutan. Pada gejala takut objek atau bahaya yang ditakuti jelas, nyata. Seperti misalnya takut pada kecoa, kucing, ondel-ondel, anjing, ular dan sebagainya. Sedangkan pada kecemasan, objek atau keadaan (bahaya) yang dikhawatirkan tidak jelas, tidak nyata.
Gejala kecemasan ada dalam bermacam-macam bentuk dan kompleksitasnya, namun biasanya cukup mudah dikenali. Seseorang yang mengalami kecemasan cenderung untuk terus menerus merasa khawatir akan keadaan yang buruk yang akan menimpa dirinya atau diri orang lain yang dikenalnya dengan baik. Biasanya seseorang yang mengalami kecemasan cenderung tidak sadar, mudah tersinggung, sering mengeluh, sulit berkonsentrasi dan mudah terganggu tidurnya atau mengalami kesulitan untuk tidur.
Kecemasan merupakan suatu keadaan emosional yang dialami olah seseorang, dimana ia merasa tegang tanpa sebab-sebab yang nyata dan keadaan ini memberikan pengaruh yang tidak menyenangkan serta mengakibatkan perubahan-perubahan pada tubuhnya baik secara somatis maupun psikologis. Perubahan-perubahan somatis yang dimaksud yaitu mungkin timbulnya rasa mual, sering buang air kecil, denyut jantung yang bertambah keras dan lain-lain. Sedangkan perubahan-perubahan psikologis dapat ditemui seperti adanya perasaan ragu-ragu, kurang percaya diri, kegelisahan, rasa rendah diri dan lain-lain. Kecemasan terjadi bukan karena ada obyek yang jelas, akan tetapi pada bentuk lain yang tidak nyata dan tidak jelas.

  1. Sikap Siswa Pada Matematika
Menurut Whitaker (1965: 157), sikap adalah suatu kecenderungan atau kesiapan seseorang memberikan respon dalam bentuk perilaku tertentu terhadap suatu stimulus (rangsangan yang diberikan). Lebih lanjut Whitaker menyatakan bahwa sikap : (1) dapat dipelajari, (2) lebih dari sekedar pengalaman masa lalu, (3) secara tidak langsung merupakan suatu hubungan subjek dengan objek yang berkaitan dengan kelompok, persoalan, individu tertentu, (4) dapat diungkap melalui sedikit atau banyak butur dan (5) memiliki motif afektif.
Objek sikap sedemikian luas, meliputi benda-benda, manusia-manusia, tempat, pendapat, tindakan atau keadaan, baik secara tunggal maupun jamak. Sikap dipandang sebagai suatu kecenderungan yang memberikan respon secara menyenangkan atau tidka menyenangkan terhadap objek-objek yang diberikan, maka ojek sikap merupakan suatu keadaan yang amat kompleks, dimana manusia dapat saling mempengaruhi tingkah lakunya terhadap sesama baik secara individu maupun kolektif, terhadap benda-benda, atau kejadian-kejadian di sekitarnya (Oskamp, 1991: 7)
Sikap merupakan keadaan internal seseorang, berupa kecenderungan atau kesiapan memberikan respon meliputi komponen kognitif, afektif dan konatif terhadap suatu stimulus di lingkungan sekitarnya.

F.     TUJUAN PENELITIAN
  1. Untuk menemukan seberapa besar pengaruh langsung atau tidak langsung antara konsep diri siswa terhadap hasil belajar matematika siswa.
  2. Untuk menemukan seberapa besar pengaruh langsung atau tidak langsung antara sikap siswa pada matematika terhadap hasil belajar matematika siswa.
  3. Untuk menemukan seberapa besar pengaruh kecemasan siswa terhadap hasil belajar matematika siswa.
  4. Untuk menemukan seberapa besar pengaruh antara konsep diri siswa terhadap kecemasan siswa.
  5. Untuk menemukan seberapa besar pengaruh antara sikap siswa pada matematika terhadap kecemasan siswa.
  6. Untuk menemukan seberapa besar pengaruh antara konsep diri terhadap sikap siswa pada matematika.

G.    KONTRIBUSI PENELITIAN
Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk :
  1. Kontribusi Teoritis
Dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk penelitian lanjutan, dengan tema yang sama akan tetapi dengan metode dan teknik analisa yang lain, sehingga dapat dilakukan proses verifikasi demi kemajuan ilmu pengetahuan.
  1. Kontribusi Praktis
a.       Pemerintah, dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk menentukan kebijakan yang berhubungan dengan pembentukan konsep diri yang benar pada siswa sehingga dengan karakteristik dan tingkat kecemasan dalam diri siswa dapat dihasilkan kualitas sumber daya yang baik bagi kemajuan Indonesia.
b.      Kepala Sekolah, dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk menentukan kebijakan baru dalam rangka meningkatkan hasil belajar matematika siswa dengan memperhatikan sikap siswa pada matematika, tingkat kecemasan dan pembentukan konsep diri yang benar dalam diri siswa.
c.       Guru, sebagai ujung tombak proses pembelajaran, dapat menggunakan hasil penelitian ini dengan mengakomodasi setiap kebutuhan siswa sesuai dengan sikapnya pada matematika dan mengarahkan siswa menemukan konsep diri yang benar sehingga kecemasan siswa dapat diubah menjadi energi, bukan hambatan dalam proses belajar mengajar.
d.      Orang Tua, dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk mengarahkan anak-anaknya belajar memiliki sikap yang positif pada matematika, dan mengarahkan konsep diri ke arah yang benar serta memberdayakan kecemasan siswa sebagai sinergi yang baik dalam belajar.

H.    METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian survei, yaitu penelitian yang digunakan untuk memperoleh suatu fakta tentang gejala atau permasalahan yang timbul dengan membandingkan kondisi-kondisi yang ada dengan kriteria yang telah ditentukan antar masing-masing variabel yang ada dalam penelitian ini.
Adapun desain penelitian/konstelasi masalah dapat digambarkan sebagai berikut:

 
Keterangan :
X1        =   Konsep Diri
X2        =   Sikap Siswa pada Matematika
X3        =   Kecemasan Siswa
Y         =   Hasil Belajar Matematika

Data yang akan digunakan dalam penelitian ini bersumber dari SISWA, yaitu dengan cara memberikan angket berskala Likert untuk 3 variabel bebas (konsep diri, kecemasan dan sikap siswa pada matematika) dan menggunakan tes berbentuk pilihan ganda untuk variabel terikat (hasil belajar matematika).
Sebelum instrumen penelitian digunakan, terlebih dahulu akan diadakan uji validitas dan uji reliabilitas untuk menjamin instrumen yang digunakan valid dan reliabel untuk mengukur variabel-variabel dimaksud. Dalam hal ini akan menggunakan bantuan SPSS 15.0 untuk menghitung validitas dan reliabilitas instrumen.
Setelah data didapatkan akan dilakukan uji persyaratan analisis data, yaitu uji normalitas (menggunakan kosmogorov smirnov, untuk menguji apakah data berdistribusi normal atau tidak) dan uji linieritas (untuk menguji linieritas regresi).
Teknik analisa data yang digunakan adalah regresi linier sederhana dan regresi linier ganda, untuk mengetahui seberapa besar pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat dan mengetahui seberapa besar pengaruh seluruh variabel bebas terhadap variabel terikat, serta menggunakan analisis jalur untuk mengetahui hubungan antar variabel. Selanjutnya akan dilakukan uji hipotesis.


I.       JADWAL PENELITIAN
Penelitian ini akan memakan waktu 3 bulan, dengan jadwal sebagai berikut :
No
Deskripsi Kegiatan
Bulan 1
Bulan 2
Bulan 3
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Pengajuan Judul Penelitian

Ö










2
Pembuatan Instrumen Penelitian

Ö
Ö









3
Pengujian Instrumen Penelitian



Ö








4
Pengumpulan Data




Ö
Ö






5
Pengolahan Data





Ö
Ö
Ö




6
Ringkasan Eksekutif
(Executive Summary)








Ö



7
Seminar Hasil Penelitian









Ö


8
Penulisan Laporan Penelitian










Ö
Ö
9
Penggandaan Laporan Penelitian











Ö

J.      PERSONALIA PENELITIAN
1.      Ketua Peneliti
a.       Nama Lengkap                     :  Leonard, S.Pd.
b.      Golongan Pangkat/NIP        :  Asisten Ahli
c.       Jabatan Fungsional               :  Dosen
d.      Jabatan Struktural                :  -
e.       Fakultas/Program Studi       :  FTMIPA/Pendidikan Biologi
f.       Perguruan Tinggi                  :  Universitas Indraprasta PGRI
g.      Bidang Keahlian                  :  MIPA
h.      Waktu untuk Penelitian ini  :  3 Bulan
2.      Anggota Peneliti                        :  -
3.      Tenaga Laboran/Teknisi             :  - orang
4.      Pekerja Lapangan/Pencacah       :  2 orang
5.      Tenaga Administrasi                  :  - orang

K.    PERKIRAAN BIAYA PENELITIAN
Persiapan dan Pengumpulan Data
1.   Perizinan Penelitian                                                           Rp.  200.000,-
2.   Pembahasan Awal dan Pengumpulan Data Awal           
a.   Copy Instrumen Penelitian (uji validitas)                   Rp.  100.000,-
b.   Tinta Printer                                                                Rp.  120.000,-
c.   Transportasi                                                                 Rp.  100.000,-
d.   Konsumsi                                                                    Rp.  150.000
Subtotal A                                                                               Rp.  670.000,-      

Operasional Lapangan
1.   Copy Instrumen Penelitian                                               Rp.  300.000,-
2.   Konsumsi Pelaksana Penelitian                                         Rp.  300.000,-
3.   Transportasi                                                                       Rp.  300.000,-
Subtotal B                                                                               Rp.  900.000,-

Pengolahan Data
1.   Konsumsi Tim Pengolahan Data                                       Rp.  300.000,-
2.   Tinta Printer                                                                      Rp.  120.000,-
3.   Transportasi                                                                       Rp.  200.000,-
Subtotal C                                                                               Rp.  620.000,-

Penyusunan Laporan Hasil Penelitian
1.   Seminar Hasil Penelitian                                                          
a.   Honor                                                                          Rp.  100.000,-
b.   Transportasi                                                                 Rp.    50.000,-
c.   Konsumsi                                                                    Rp.  200.000,-
2.   Penggandaan Makalah                                                      Rp.  150.000,-
3.   Menyusun Laporan Akhir (Tinta & Konsumsi)                Rp.  200.000,-
4.   Penggandaan Laporan Akhir                                            Rp.  100.000,-
Subtotal D                                                                               Rp.  800.000,-

TOTAL A + B + C + D                                                        Rp.  2.990.000,-
                        (Dua Juta Sembilan Ratus Sembilan Puluh Ribu Rupiah)



L.     DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, 1993, Manajemen Penelitian, (Jakarta, Rineka Cipta)
Gulo, W., 2005, Strategi Belajar Mengajar Cet ke 3 (Jakarta, Grasindo)
Hamalik, Oemar, 2004, Proses Belajar Mengajar (Jakarta, Bumi Aksara)
Harold G. Shane, Arti Pendidikan Bagi Masa Depan (____, ____, 2002)
Hudoyo, Herman;  1988, Proyek Pengambangan Pendidikan, Jakarta : Depdikbud
Lubis, Zulkifli, 1998, Teori Belajar (Jakarta, STKIP Wijaya Bakti)
Nasution, Andi Hakim, 1980, Landasan Matematika (Jakarta, Bhratara Karya Aksara)
Oskamp, Stuart, 1991. Attitude and Opinions. New Jersey: Prentice Hall, Inc.
Purwanto, M. Ngalim, 1992, Psikologi Pendidikan (Bandung, Remaja Rosda Karya)
Riduwan, 2005, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula (Bandung, Alfabeta)
Sudjana, Nana, 2004, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar cet. ke 9 (Bandung, Remaja Rosda Karya)
Sugiyono, 2004, Metode Penelitian Administrasi (Bandung, Alfabeta)
Suparman, I.A., 2006, “Matematika Sebagai Dasar Semua Ilmu” Makalah, Orasi Ilmiah Wisuda Sarjana XVII UNINDRA, Jakarta.
Suryabrata, Sumadi; 2004, Psikologi Pendidikan, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Whitaker, James O., 1965, Psychology. Philadelphia: W.B. Saunders Company.
Winkel, W.S., 1996, Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Pendidikan (Jakarta, Gramedia)







PENGARUH KONSEP DIRI, SIKAP SISWA PADA MATEMATIKA DAN KECEMASAN  SISWA
TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA




USUL PENELITIAN



OLEH
















Yang bertanda tangan di bawah ini menyetujui penelitian :
Judul               :   Pengaruh Konsep Diri, Sikap Siswa Pada Matematika dan Kecemasan Siswa Terhadap Hasil Belajar Matematika
Peneliti            :   

LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN
USULAN PENELITIAN
 

A.        Judul Penelitian                       :   Pengaruh Konsep Diri, Sikap Siswa Pada Matematika Dan Kecemasan Siswa Terhadap Hasil Belajar Matematika
B.         Bidang Ilmu                            :   Pendidikan Matematika
 

Peneliti :
A.        Nama                                       : 
B.         Jenis Kelamin                          :   
C.         Pangkat/Golongan                  :   
D.        Jabatan Akademik                  :   
E.         Perguruan Tinggi                     :   
 

Lokasi Penelitian                             :   SMP di wilayah DKI Jakarta

 


Lama Penelitian                              :   3 (Tiga) bulan

 

Biaya Penelitian                              :   Rp. 2.990.000,-
                                                            (Dua Juta Sembilan Ratus Sembilan Puluh  Ribu Rupiah)
 





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar